Main menu

Default shortcuts

Alexa widget

Facebook Login

Connect

Who's online

There are currently 0 users online.

Powered by Drupal

You are here

SEDEKAH ATAU BERBAGI KASIH ?

<p>Ditulis oleh Pakpahan Herman<br /> Suatu hari aku pernah merasakan dan mengalami kelaparan yang sangat perih, sesudah 5(lima) hari tidak ada masuk makanan, penyebab aku tidak makan karena tidak punya uang satu sen pun, sementara aku berada di lingkungan yang tidak mau perduli satu sama lain. Sedih dan perih rasanya melihat orang lain memakan makanan yang dapat dibeli mereka, dari sini aku bisa merasakan betapa orang berani melakukan kejahatan jika mereka merasa lapar, aku tetap berjalan seiring waktu berjalan. Terkadang terpikir olehku untuk melakukan kejahatan agar aku bisa makan.</p> <p> Sepanjang perjalananku yang tanpa arah, aku melihat disekitarku. Ada yang mengais pembuangan sampah, sampai berebut untuk mendapatkan sesuatu yang dianggap bisa menjadi uang. Di sisi lain aku melihat ada yang mengemis, ada juga yang berpenampilan sangat rapi terakhirnya ditangkap massa karena menjambret.</p> <p> Aku berfikir kembali, akankah aku ikut melakukan kejahatan tersebut?, di sudut stasiun Senen Jakarta, kakiku melemah untuk melangkah. Sungguh sudah tidak sanggup lagi aku melanjutkan langkah kaki ini.</p> <p> Aku duduk sesaat, terlintas di pikiranku. Saat ini aku jauh dari keluargaku, aku sendirian, dan aku tidak bisa menyerah begitu saja terhadap kerasnya kehidupan ini. Sambil jongkok dan menekan perutku yang sudah perih karena lapar. Terdengar lirih oleh telingaku, sebuah lagu yang dulu sering aku nyanyikan sambil memainkan gitar, sering aku putar sebagai junggle lagu saat aku akan menyiar di radio, kucari dengan mataku dimanakah asal suaru lagu itu. Suara lagu itu aku lihat di putar oleh sebuah Hand Phone multi media yang dimainkan oleh seorang gadis kecil berumur 9 tahun, kuperhatikan anak itu terus. Seketika dia melihat ke arahku, dia merasa takut dan berlari menghampiri rekan-rekannya. Lalu aku berdoa di dalam hati dan menyadari isi bait lagu tersebut.</p> <p> Lagu "Di Doa Ibu Kudengar " yang dinyanyikan oleh Nikita itu menyadarkan aku, lalu aku berdoa sungguh-sungguh kepada NYA, dan aku terbangun setelah aku melihat begitu banyaknya anak kecil yang tak lain adalah anak jalanan dari Rumah Kardus, mereka memperhatikan aku, dan anak kecil yang tadi aku perhatikan mendengarkan lagu Nikita tersebut bertanya kepada ku, "Abang sakit ya? atau abang lapar?" lalu seorang anak laki-laki berkisar umuran 7 (tujuh) tahun berlari, sekira 2(dua) menit beliau hadir dihadapanku dan tangannya menyodorkan sebungkus lontong dan secangkir plastik air teh.</p> <p> Aku benar-benar lapar dan kehausan, sekejap kulahap habis lontong dan air teh tersebut, lalu gerombolan anak jalanan tersebut membawaku ketempat komunitasnya di rumah kardus di bawah kolong jembatan. Sangatlah banyak orang di dalam satu rumah kardus yang berukuran 3 x 5 m itu, mereka adalah orang-orang yang bertahan akan kerasnya hidup di Jakarta, siang menjelang sore itu aku disajikan makanan oleh keluarga yang bermukim di rumah kardus tersebut.</p> <p> Nasi yang di masak didapat dari mengumpulkan beras-beras terbuang dari pasar senen, sayur kol yang di sajikan di dapat dari sisa-sisa pembuangan di pasar. Malamnya aku kembali ke tempat aku tinggal, manusia disekitar ku adalah manusia yang tidak mau perduli dengan keadaan orang lain. Dan ada satu sifat di diriku yang tidak mau meminta. Aku disadarkan oleh anak-anak jalanan dari rumah kardus tersebut, pada hari minggu di bulan januari 2010 tepatnya tanggal 24 Januari 2010, aku mendatangi rumah kardus tersebut. Aku ajak anak-anak disekitar itu bernyanyi sambil bertepuk dan kuajari beberapa gerakan.<br /> Sampai saat aku menuliskan kesaksianku ini aku masih sering mengunjungi mereka karena aku sudah mulai mengajari anak-anak jalanan itu baca tulis. Setiap rezeky yang aku dapatkan selalu aku sisihkan untuk membelikan anak-anak tersebut buku dan alat tulis dari Poncol pasar loak. Aku sangat merasa bahagia bisa berbagi kasih dengan mereka, walaupun hampir keseluruhan dari mereka bukanlah pengikut KRISTUS yang aku sembah.</p> <p> Kisah ini aku alami beberapa tahun yang lalu, kembali aku posting hari ini untuk mengingatkan aku secara pribadi agar lebih baik menjalani hidup ini. Demikian juga agar setiap orang yang membacanya bisa menerima perubahan yang menjadi lebih baik juga dalam kehidupan anda masing-masing. Terima kasih.</p>

Facebook Comment