Main menu

Default shortcuts

Alexa widget

Facebook Login

Connect

Who's online

There are currently 0 users online.

Powered by Drupal

You are here

Menghadapi Kebenaran

“Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini” (Yoh. 4:16). Nah, itu bom! Kata-kata Yesus itu sama sekali tak diperkirakan wanita Samaria itu.

Sebuah perintah perseptif, membuat wanita itu salah kaprah. “Aku tidak mempunyai suami,” ucap wanita itu, yang seharusnya ia rahasiakan (ayat 17). Yesus menyetujuinya, berkata bahwa wanita itu sudah punya lima suami dan sekarang dia “kumpul kebo” dengan pria bukan suaminya (ayat 18).

Itu menyakitkan. Kemungkinan itulah kebenaran tetapi tidak nyaman. Hal ternaik yang dapat dilakukan dari sudut pandang wanita itu adalah mengubah pembicaraan kepada sesuatu yang lebih netral: “Nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi” (ayat 19). Dan andaikan itu tidak berhasil, dia selalu bisa memulai pokok bahasan tentang di mana seseorang seharusnya memuja (ayat 20). Apa saja kecuali lebih banyak percakapan mengenai kehidupan pribadinya.

Dalam hal ini kita tidak banyak berbeda daripada wanita Samaria itu. Kita akan melakukan apa saja untuk meloloskan diri ketimbang menagani kekurangan dan dosa-dosa yang kita junjung. Segera bilamana dosa-dosa dan kekurangan-kekurangan kita mungkin akan terbongkar, maka kita serta merta mencari jalan ke luar untuk menghindar. Dan alasan yag sudah using bisa saja digunakan. Yang penting ialah menempatkan jarak antara diri kita dan hati nurani kita. Ubah pokok pembicaraan, berdebat, serang, lari. Tidak peduli bagaimana. Kita akan melakukan apa saja daripada menghadapinya.

Tetapi justru menghadapinya akan membawa kita kepada kerajaan. Ketika Yesus menghadapinya dengan cara-Nya yang lembut, wanita itu mungkin akan mencoba melakukan permainannya untuk kabur, tetapi seluruh situasinya yang kotor sekarang sudah terkuak.

Pernyataan Kristus memaksa wanita itu bertahan dengan seluruh ketidakmampuan hidupnya. Di sini terdapat dinamikan rohani yang penting. Kita sesungguhnya tidak pernah melihat diri kita sampai kita berada dalam hadirat Kristus, sampai kita melihat siapa diri kita dalam hubungan kita dengan Allah. Hanya ketika itu saja kita akan merasakan kebutuhan kita akan Dia dan berseru untuk mendapatkan air hidup yang akan sesungguhnya memuaskan (ayat 15) dan Mesias “memberitakan segala sesuatu kepada “ kita (ayat 25).

Menyelidiki dosa pribadi kita merupakan awal keselamatan. Setelah itu tiba jeritan minta tolong. Pada saat itu Kristus akan menawarkan diri-Nya sepenuhnya. “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau” (ayat 26). Dia yang sesungguhnya menjangkau ke luar dan membantu.

Bantulah saya hari ini, Bapa, supaya saya jujur kepada diri saya sendiri dan Engkau, sehingga Engkau dapat membantu saya di mana saya paling membutuhkannya.

Facebook Comment