Main menu

Default shortcuts

Alexa widget

Facebook Login

Connect

Who's online

There are currently 0 users online.

Powered by Drupal

You are here

IBU SUMI dan SISKA

<p>Kesaksian ini ditulis oleh Pakpahan Herman</p> <p> Setiap aku berjalan melintasi jembatan penyeberangan di halte koridor busway Harmoni Jakarta, selalu mata ku tertuju kepada seorang ibu dan anak kecilnya yang menikmati hari-hari mereka dengan mengemis. Perkiraanku anak perempuan ini berumur 5 tahun. Dalam seminggu aku melintasi jembatan penyeberangan ini secara rutin ada 10 kali, mau berangkat pelayanan di GBI Tiberias Pariadji ada 3 kali kebaktian dalam seminggu di hari kerja. Pulang pergi ke Gereja di kawasan Cideng setiap sabat, semuanya ditambah belanja di pusat perbelanjaan di Duta Merlin bisa kujumlah kan 10 kali dalam seminggu aku pasti bertemu Ibu dan anak perempuan kecilnya.</p> <p> Dari rutinitas ini aku mengenal Ibu Sumi dan putrinya Siska, aku tidak pernah memberikan uang kepada mereka, aku lebih suka memberikan makanan dan buah yang aku beli dari pusat perbelanjaan di Duta Merlin. Dari dua buah apel dan sebotol jus mangga yang aku berikan membawa aku lebih mengenal mereka. Karena begitu merasa dekatnya Siska sering datang ke kantor ku di Jalan Hayam Wuruk, berhubung pintu kantor di kunci otomatis dan hanya bisa di buka dari dalam atau dari luar bagi yang mengetahui nomor sandi nya, namun Siska selalu sabar menunggu aku di depan pintu hingga aku keluar dari ruang kantor pada jam makan siang, hampir seluruh karyawan di kantor menjuluki Siska anak Pak Herman.<br /> Setiap aku ada di kantor aku selalu mengajak SIska ke rumah makan padang di daerah Batu Tulis di belakang kantorku untuk makan siang, dia tidak akan mau makan, dia tidak minta jajan apapun, dia Cuma minta nasi telor plus sayur nangka di bungkus untuk dimakan bersama ibunya. HIngga satu kali CEO ditempatku bekerja memanggilku ke ruangan nya.</p> <p> “ Pak Herman, saya bukan nya ikut campur dalam kehidupan pribadi anda, tapi jika setiap hari anda dijadikan sumber pendapatan pengemis di jembatan penyeberangan untuk membelikan mereka nasi bungkus, kapan anda bisa menyimpan uang anda? Anda harus sadar bahwa anda sudah dimanfaatkan oleh pengemis tersebut.” Ucap si Bos menasehati ku. Aku diam saja pada saat itu, dan Cuma mengiyakan masukan si bos. Dan secara pribadi aku tidak pernah berfikir bahwa Ibu Sumi dan Siska sudah memanfaatkan aku, aku Cuma senang melihat Siska setiap harinya menantikan aku di pintu depan kantor, dan bahagia bisa melihat dia senang membawakan nasi bungkus untuk di makan bersama ibunya di atas jembatan penyeberangan.</p> <p> Seperti biasa setiap hari kamis, setelah aku membelikan nasi bungkus kepada Siska aku segera kembali ke kantor dan bersiap untuk berangkat ke Duta Merlin ikut kebaktian. Secara tiba-tiba si bos menghampiri aku dan mengajak aku berjalan bersama ke Duta Merlin, dalam hati aku bertanya-tanya kenapa si Bos yang biasanya kebaktian di Senayan City tiba-tiba mau ikut di Duta Merlin, pake jalan kaki lagi. Yah saya sebagai bawahan dia menurut saja atas ajakan si Bos untuk berbakti sama – sama di Duta Merlin.</p> <p> Saat kami menaiki tangga penyeberangan, CEO dan aku melihat Ibu Sumi dan Siska dengan tiga orang lainnya sesama pengemis sedang asyik makan nasi bungkus yang tadi aku belikan. Nasi satu bungkus dimakan bersama lima orang, dalam hatiku bertanya apa cukup, “ Pak Herman, terima kasih yah nasi nya” itu lah yang diucapkan Ibu Sumi. Sambil melanjutkan perjalanan si Bos bertanya “ Man, apa nasi satu bungkus itu cukup untuk mereka berlima?”. “ Yang pasti tidak cukup pak, namun aku yakin mereka makan secukupnya mengisi perut mereka” Jawab ku kepada si Bos. Sepulang dari kebaktian si Bos memanggil ku ke ruangan nya.” Man mulai besok siang aku yang bayar nasi bungkus untuk Ibu Sumi dan kawan-kawan nya”, ujar si Bos kepada ku.</p> <p> Satu kalimat yang si bos di tempat ku bekerja katakan sangat kukenang, “ Mereka pengemis bisa berbahagia di kekurangan nya namun aku yang memiliki kecukupan tidak mampu membagi berkat yang kumiliki untuk orang lain”. Mari setiap kita yang membaca kesaksian ku ini, mari kita berbahagia atas apa yang TUHAN berikan kepada kita berkat-berkat terindah, dan berkat yang ada itu mari kita bisa bagikan sedikit untuk orang yang membutuhkan. Terima kasih sudah bersedia membaca kesaksian ku ini. HP</p> <p> Firman TUHAN sebagai Perenungan bagi kita semua pada Malam hari ini Minggu 02/12 /2012</p> <p> Kisah Para Rasul 10:2<br />  </p>

Facebook Comment