Main menu

Default shortcuts

Alexa widget

Facebook Login

Connect

Who's online

There are currently 0 users online.

Powered by Drupal

You are here

PEMBUKA PINTU GERBANG GEREJA

<p>PEMBUKA PINTU GERBANG GEREJA</p> <p> Kisah nyata ini terjadi di Sulawesi pada saat saya melakukan perjalanan tugas ke wilayah itu. Sebulan saya di kota itu (maaf saya tidak menyebutkan nama kota nya dan nama personal), di sabat pertama saya bergereja di kota itu ada hal yang menarik perhatian saya, seorang bapak tua kita sebut saja Ambe Andeng dengan baju putih dan celana hitam dan dasi yang sudah lusuh membukakan pintu gerbang gereja dan menyambut saya dengan sangat ramah dan menyalami saya dengan berucap “ Selamat Sabat Saudaraku Selamat Berbakti Di Jemaat Kami, lalu Ambe Andeng mengantarkan aku masuk ke dalam gereja ke kursi bagian tengah. Sabat Kedua demikian juga, sabat ke tiga demikian juga dan pada sabat ke tiga itu bertepatan dengan pisah sambut pendeta jemaat mereka yang lama, lepas kebaktian saya diundang untuk ikut bersama keruangan di belakang gereja untuk makan bersama dalam rangka pisah sambut jemaat untuk Pendeta Gembala Jemaat yang lama dan yang baru, selesai makan di persilahkan jemaat mengucapkan sebuah dua buah kata untuk Pendeta Gembala Jemaat yang lama dan yang baru. Setelah beberapa orang berbicara saya melihat Ambe Andeng berdiri sambil menyeka saputangan di pipinya.</p> <p> Ambe Andeng berdiri dengan terisak dan diam sesaat, setelah isak tangisnya reda lalu dia berbicara “ Pak Pendeta, 50 tahun lebih saya masuk di kebenaran ini (GMAHK maksudnya) tapi dua tahun pelayanan Pendeta merubahkan ku untuk lebih dekat dengan TUHAN. Berbeda dengan pendeta-pendeta yang sudah pernah menjadi gembala disini. “Terima kasih Pak Pendeta, sekali sebulan minimal bapak selalu datang mengunjungi aku di rumah ku yang kecil, sekali sebulan bapak Pendeta mau mendoakan seisi rumah ku.</p> <p> Sekalipun aku cuma nelayan yang miskin, pak pendeta selalu mengucapkan terima kasih kepada ku jika bapak pendeta meminta aku ambil bagian setiap malam rabu dan vesper. Seharusnya akulah yang berterima kasih karena bapak pendetalah yang pernah meminta aku ambil bagian di gereja ini, selama ini tidak ada satupun yang meminta aku ambil bagian di gereja.</p> <p> Aku tidak akan lupa disaat aku bercerita kepada bapak bahwa selama ini aku tidak pernah dipercaya untuk ambil bagian dalam perbaktian, tapi bapak berkata bahwa hal kecil yang kita lakukan untuk melayani TUHAN adalah pelayanan kita untuk TUHAN.Sekali lagi Pak Pendeta saya mau berterima kasih mengijinkan aku mengambil bagian di gereja sekalipun menjadi pembuka pintu gerbang gereja . Itulah kata-kata yang keluar dari Ambe Andeng selanjutnya dia benar-benar menangis dan Pak Pendeta yang akan pindah itu memeluk Ambe Andeng. Semua yang ada di ruangan itu terharu bahkan saya menangis menyaksikan itu semua.<br /> Saudara-saudariku sekalian, masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk kemuliaan TUHAN. Saya pribadi menerapkan apa yang di lakukan Bapak Ambe Andeng walaupun Cuma membukakan pintu disaat jemaat mau keluar selepas perbaktian. Bahkan saya masih kalah dibandingkan dengan Bapak Ambe Andeng yang selalu membukakan pintu gerbang di setiap orang masuk ke dalam gereja dan selepas perbaktian.</p> <p> Aku dedikasikan untuk Ambe yang ada di Sulawesi dan untuk saudara-saudariku yang sedang merasa jenuh, bosan, takut, tawar hati dan yang dikecewakan. Firman TUHAN dalam I Tawarikh 22:13 Maka engkau akan berhasil, jika engkau melakukan dengan setia ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum yang diperintahkan TUHAN kepada Musa untuk orang Israel. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan janganlah tawar hati.</p> <p> Yang percaya katakan AMIN saudara. Cerita dan Pemikiran ini di tulis oleh <em><strong>Herman Pakpahan</strong></em></p>

Facebook Comment