Main menu

Default shortcuts

Alexa widget

Facebook Login

Connect

Who's online

There are currently 0 users online.

Powered by Drupal

You are here

KISAH DI BAKSO PRESIDEN MALANG

<p>Saya masih ingat pada satu kisah yang tak mungkin aku lupakan di kota Malang, sepulang meeting dengan seorang pengusaha terkenal di Malang, Pak Ari menawarkan diri mengantarkan ku ke Hotel Ragent’s Park Malang tempat aku menginap. Didalam mobil Pak Ari menanyakan makanan kesukaan ku, aku jawab aja Mie Goreng Halal dan Bakso,<br /> Pak Herman, saya mau ajak bapak makan Bakso Malang dulu baru kita ke Hotel tempat bapak menginap, ada satu warung bakso kesukaan keluarga ku.<br /> “ Okay deh Pak Ari, kebetulan perutku pun sudah mulai berbunyi” Jawabku menanggapi tawaran Pak Ari</p> <p> Pak Ari mengarahkan mobil Alphard nya menuju jalan Batanghari, sesampai nya di warung bakso itu aku melihat sudah banyak mobil mewah yang parkir dan panjangnya antrian orang yang mau makan bakso di tempat itu. Kami turun dari mobil dan ikut antrean untuk dapat membeli bakso, lima baris di depan ku aku melihat seorang ibu tua yang berpakaian lusuh dan bau sekali. Ibu itu kelihatannya adalah seorang gelandangan yang ikut antri. Tiba giliran Ibu itu dia ditawarkan oleh si mbak pelayan warung bakso itu dengan sopan dalam bahasa jawa yang artinya sperti ini “ Ibu, mau bakso yang biasa atau special?” si Ibu menjawab “ Yang biasa berapa dan yang special berapa?” Si pelayan warung bakso yang lemah lembut itu menjawab “ Bakso yang biasa harganya Rp. 7.500,- / porsinya Ibu, dan bakso special Rp. 17.500,-/ porsinya. Ibu mau yang mana?”. Sambil merogoh gulungan kain yang diikatkan di perutnya ibu itu menghitung jumlah uangnya lalu menjawab si pelayan warung bakso itu “ Mbak saya mau bakso Spesial” Di belakang ibu itu seorang pemuda bersama kekasihnya yang juga ikut antrian sudah mulai kelihatan emosi. Si pelayan bertanya pada ibu itu “ Mau makan di sini atau di bungkus ibu?” “ Makan disini saja mbak, sudah lama saya kumpulkan uang untuk bisa makan bakso yang enak di tempat ini jawab si ibu”.</p> <p> Ibu itu berlalu dengan membawa bakso yang dibeli nya dan di belakang ibu itu orang muda yang bersama kekasihnya itu marah-marah ke pelayan warung bakso tersebut dan berkata “ ini menjatuhkan nama baik warung bakso yang terkenal ini, kita semua yang makan disini orang yang terpandang dan berkelas, masa sih gelandangan di layanin disini, pake lama lagi, ujar si orang muda itu kepada si pelayan protes.<br /> Sipelayan itu menjawab si pemuda itu dengan halus juga tanpa ada sedikitpun amarah keluar dari bbibirnya, si pelayan menjawab “ Mas, saya disini bertanggung jawab untuk melayani semua orang yang datang membeli bakso disini, tanpa melihat siapa yang membeli. Sama hal nya seperti saya melayani mas yang mau membeli bakso di tempat kami ini”</p> <p> Kisah ini sudah berlalu empat tahun yang lalu, saya masih ingat Pak Ari dan saya sempat membahas kejadian yang kami saksikan itu saat santai sambil menikmati sedapnya Bakso President di kota Malang ini. Kita teramat sering mau melayani orang dengan melihat siapa orang itu bukan melayani orang itu karena datang ke pada kita. Bagaimana dengan orang yang tidak datang kepada kita? Mungkin kita akan diam saja dan menganggap orang yang tidak datang kepada kita itu tidak begitu berarti, dan tidak butuh dilayani.</p> <p> Selamat Malam Sahabat ku semua, Firman TUHAN Malam Hari Ini terdapat dalam Amsal 29 :23 Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.</p> <p> Yang suka dengan Kisah ini dan berbahagia atas Kasih Karunia TUHAN katakan AMIN saudara. Kisah Nyata ini ditulis oleh <strong>Pakpahan Herman </strong>untuk di bagikan</p>

Facebook Comment